One Fine Afternoon at Kinji Coffee
Sebuah pertemuan singkat yang mengingatkan saya pada hangatnya masa-masa kuliah.
Category
Daily Stories
Reading Time
1 Min
Date
May 2, 2025
Sore itu di sebuah kafe bernama Kinji, saya kembali duduk satu meja bersama dua teman kuliah saya: Ferry dan Fildza. Kami bertiga dulunya cukup sering nongkrong bareng—entah itu untuk ngobrol soal tugas, curhat, atau sekadar menghabiskan waktu. Tapi setelah lulus dan mulai bekerja, ritme hidup berubah. Terutama Ferry, yang sekarang tinggal dan kerja di luar pulau, membuat pertemuan seperti ini jadi momen yang langka.
Kami banyak berbagi cerita, mulai dari keseharian, pekerjaan, sampai hal-hal kecil yang hanya bisa dimengerti oleh orang yang pernah melewati fase hidup yang sama. Saya pribadi lebih banyak diam dan mendengarkan cerita mereka berdua. Rasanya menyenangkan bisa jadi pendengar—melihat bagaimana hidup membawa mereka ke arah yang berbeda, tapi tetap terasa akrab saat bertemu lagi.
Momen sederhana seperti ini mengingatkan saya bahwa pertemanan itu tidak selalu butuh intensitas, tapi lebih soal koneksi yang tetap terasa meski jarang bertemu. Kami tidak tahu kapan bisa duduk bareng lagi, tapi sore itu, Kinji menjadi saksi kecil dari waktu yang berhasil kami curi dari kesibukan masing-masing.
Beberapa pertemuan mungkin singkat, tapi sisanya tinggal lama di dalam kepala.
Related Articles


